Ikatan Keluarga Berkualitas Dapat Meningkatkan Prestasi Keluarga Maupun Individu
Pengabdian Pada Masyarakat
Jumat, 25 Januari 2019 | Admin | 162 kali

Ikatan Keluarga Berkualitas Dapat Meningkatkan Prestasi Keluarga Maupun Individu

Materi Jagrawinungu RRI Singaraja, Kamis 24 Januari 2019

Oleh Gede Sandiasa

om samjnanam nah svebhih sanjnanam aranebhih

(semoga kami memiliki kerukunan dengan orang-orang yang dikenal dengan akrab dan orang-orang asingpun dalam Atharwaveda VII.52.1)

Sebagai Umat Hindu dapat menyimak kisah kepahlawanan, kekerabatan dan kualitas hubungan persaudaraan dari kisah Ramayana  dan Mahabrata, bagaimana perjalanan ikatan tali persaudaraan membawa kejayaan bagi para tokoh utama dalam kisah bersangkutan. Bagaimana keempat bersaudara Rama, Bharata, Laksamana, dan Satrugna (dalam epos Ramayana). Panca Pandawa dalam Mahabarata, kisah mereka dalam ikatan persaudaraan yang kokoh dan kuat, serta saling mendukung dari masa belajar (Brahmacari), Menikah (Grahasta) masa pembuangan 14 tahun di hutan (Wanaprasta), masa perang (bhratayuda atau perang alengka), dan masa kejayaannya,   penuh dengan kisah yang mengingatkan pada Umat Hindu atau para peminat serta  pendalam kisah kepahlawanan dari kedua cerita bersangkutan. Memberikan alasan bahwa betapa pentingnya kualitas hubungan dalam keluarga untuk mewujudkan cita-cita utama menjadi tujuan hidup manusia.

Dalam perkembangan Umat Hindu di Bali, ornamen persaudaraan ini diwujudkan dalam berbagai simbul-simbul dan nyata diberlakukan dalam kehidupan masyarakat Bali, dalam konsep Tri hita karana antara lain:

  1. Pembuatan prahyangan: a) gotong royong dalam mewujudkan upacara yadnya yang selalu didasarkan pada upaya peningkatan pemersatuan keluarga, seperti upacara piodalan di pura, dadia, kawitan, potong gigi, ngaben dll; b) perwujudan prahyangan seperti sad kayangan, pura kawitan, pura dadya/merajan, rong telu dst.
  2. Perikatan dalam wujud Pawongan dalam wujud klen / dadya, satu kawitan, desa pakraman, ikatan keluarga, paguyuban dan juga sering melibatkan bisama (atau aturan yang harus diikuti secara turun temurun yang tujuannya agar kita selalu dalam posisi segilik seguluk sebayantaka) untuk mewujudkan cita-cita “gemah rimpah loh jinawi”
  3. Pola hidup menetap (palemahan) dalam bentuk bangunan pura (ornament pura merupakan  perwujudan simbol-simbol pemersatu dan asal-usul keluarga, seperti bangunan sanggah jajaran (ornament pura leluhur majapahit, mpu putranjaya, gunung semeru, andekasa, penataran agung, dst), dalam bangunan perumahan asta kosala kosali (bhur = dewa; bwah = manusia; dan swah = bhuta), juga mempertimbangkan hubungan keluarga, dan upaya meningkatkan hubungan keluarga)

Makna keluarga dalam umat hindu: arti harpiahnya adalah jalinan pengabdian.  Mari kita simak apa yang disampaikan, kitab suci Sarascamuscaya dibawah ini:

“Lagi pula tidak kuasa kaum kerabat dan sanak keluarga memberi pertolongan, membebaskan dari kesedihan hati, begitupun emas dan segala rupa barang-barang milik, demikian kebangsawanan/kelahiran mulia, sastra dan mantra-mantra, demikian pula kekuasaan, keperkasaan, tidak dapat memberi pertolongan; yang dapat menolong, hanyalah tingkah laku susila, oleh karena sungguh-sungguh dapat melenyapkan kedukaan hati di dunia lain kelak kemudian (165) . selanjutnya “Adapun orang kaya yang dimintai pertolongan oleh keluarganya, tapi kaum kerabatnya itu masih saja tinggal dalam kesukaran, kesengsaraan, tidak tahu bagaimana akan nasibnya, bagaikan seekor kijang yang mencari tempat bernaung pada pohon kayu yang angus terbakar, maka sifat-sifat orang yang demikian keadaannya menodai nama baiknya, tidak patut dimintai maupun diberi” (230).

Dari sini kita petik maknanya bahwa arta, kekayaan, mantra-mantra, kekuasaan tidaklah dapat menolong sesame keluarga dari kesengsaraan, kesusahaan, tetapi tingkah laku kesusilaanlah yang dapat sungguh-sungguh melenyapkan kedukaan dan kesengsaraan mereka, betapapun kaya, pintar pengetahuannya tetapi apabila tidak bisa menolong sesamanya, ibarat meminta pertolongan pada orang miskin dan pohon kayu yang angus terbakar, tidak satupun pertolongan yang dapat diperoleh darinya, oleh sebab itu tidak perlu meminta pertolongan pada orang yang demikian.

Kemudian berikut kita simak lagi makna yang disampaikan dalam kisah Mahabrata sebagai berikut:

“ bahwa perasaan tunggal dalam bersaudara, bagaikan jalan yang datar adalah jalan untuk mencari bekal skala niskala supaya baik.  Kamu jangan kikir pada keluargamu, berilah hartamu, badanmu selalu diperhatikan, dan berbuatlah baik, beryadnya besar, kepada dewata, satukan para dewata, sucikan badanmu, jangan sayang pada harta”

Begitu dalam pesan itu yang diberikan kepada kita sebagai umat Hindu bahwasannya tali persaudaraan tidak hanya harus dibina dalam kehidupan di dunia, tetapi juga perlakukan terhadap para pendahulu (leluhur kita yang sudah menjadi dewata), wujudkanlah persatuan mereka “para dewata” dalam bentuk upacara yadnya, melalui upacara ngaben ada istilah me “ajar-ajar” atau karya bhakti melakukan sembahyang ke pura-pura sad kayangan (Besakih, Silayukti, Lempuyang, Gelgel, Goa lawah, pedharman atau yang lain sesuai keyakinan masing-masing) dengan mengikut sertakan keluarga dan leluhur. Maknanya adalah sebagai upaya terus menerus mempersatukan keluarga dan umat melalui kegiatan upacara keagamaan, melalui peningkatan sradha bhakti kepada leluhur.

Dengan demikian fungsi kekuatan ikatan keluarga adalah:

  1. Dapat memberikan jalan keluar yang tepat bagi setiap persoalan yang terjadi dalam keluarga
  2. Sebagai benteng utama dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan keluarga
  3. Kekuatan bersama dalam membina prestasi di segala bidang (politik, ekonomi, agama dan budaya, pendidikan dll)
  4. Sumber segala pengetahuan yang terbaik adalah keluarga “putra yang bijaksana dan berani, sebagai penerang yang sejati, dialah sebagai pengikat keluarga, kalau lama menjadi penerang, ialah pengetahuan kebenaran, itu benar-benar, menuntun ke jalan cita-cita” (mahabrata).

Bagaimana dengan  reliatas masa kini??

Akibat keterbatasan sumberdaya manusia, yang memiliki pemikiran yang transcendental atau memiliki visi jauh ke depan seperti yang dilakukan para pendahulu kita, yang jauh memiliki peradaban yang bersifat komprehensif, totalitas, pemersatu umat, menembus batas di luar kemampuan manusia masa kini, dengan menciptakan konsep seperti Tri hita karana, kisah-kisah Mahabarata, Ramayana, dan buku-buku kita suci lainnya, yang kalau kita pahami mengandung makna peradaban yang sangat hakiki, dan realitas bisa terjadi dan dilaksanakan.

Sedangkan jiwa antagonism dan egoistis individualis, tercipta masa kini, menciptakan manusia-manusia yang syarat dengan kepentingan pribadi, di mana-mana terjadi perpecahan, pengingkaran terhadap ajaran agamanya sendiri, menjadikan yadnya sebagai kegiatan bisnis tanpa disertai kebermaknaan atau tidak berupaya menarik manfaat dan makna dari sebuah upcara, perpecahan keluarga, klen, politik, sengketa keluarga, sengketa warisan, sadisme, dll.

Apa yang harus dilakukan?

  1. Peningkatan pemahaman terhadap agama, ritualitas dan yadnya
  2. Meningkatkan pengetahuan, kecerdasan dan nilai keagamaan terutama bagi generasi muda melalui pasraman permanen (kilat)
  3. Kembalikan dan kuatkan peran dan fungsi keluarga sebagai Pembina tattwa, susila dan upacara
  4. Perlindungan terhadap aspek-aspek budaya yang dapat meningkatkan kualitas sumberdaya umat
  5. Melakukan kajian terhadap adat-istiadat yang secara nyata tidak membawa kemanfaatan bagi kemajuan umat.
  6. Kuatkan lembaga keumatan seperti PHDI sebagai pemersatu umat
  7. Memanfaatkan teknologi, untuk meningkatkan kohesitas atau kebersatuan umat

Kesimpulan

Segala sumber pengetahuan yang terbaik adalah belajar dari kehidupan keluarga, keluarga yang berkualitas dapat mendorong dan meningkatkan prestasi baik secara individu maupun secara bersama-sama. Tingkatkan pemahaman dan keiklasan dalam melaksanakan kewajiban dalam keluarga, dapat meningkatkan kemampuan memahami sesama dalam pergaulan yang lebih luas di masyarakat.

Daftar Pustaka

Kajeng, I Nyoman, 1981. Sarascamuscaya. Yayasan Widyalaya Jakarta

Epos Ramayana dan Mahabrata

Titib, Made, 2006. Weda Sabda Suci (Pedoman Praktis Kehidupan. Paramita, Denpasar

Email : sandiasagede1970@gmail.com atau gedesandiasa.com




Nama
Website
Komentar